Potensi Lahan Rawa Pasang Surut

Kimpraswil

In cooperation with

Rijkswaterstaat


Start
Umum
Potensi Lahan
Lingkungan
Pilot area
TAM
Pertanian
Pilot views
operasi pintu
Rice Estate
Maret 2003
September 2003

Arah Kebijakan dan Pembahasan

(Policy Decisions and Discussion)

Semua kawasan hutan alami dewasa ini mengalami tekanan yang semakin meningkat akibat pembangunan . Hal itu tidak hanya diakibatkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk . Perambahan hutan terjadi karena orang, perusahaan, dan pemerintah memandang hutan sebagai peluang untuk mendatangkan pendapatan .

Kebanyakan produksi beras di Indonesia dihasilkan dari Pulau Jawa yang merupakan suatu kawasan penghasil beras dengan jumlah penduduk terpadat di dunia .Tingginya tekanan terhadap lahan sawah khususnya pada kawasan-2 penghasil beras yang letaknya berdekatan dengan daerah perkotaan telah mengakibatkan konversi lahan sawah kepada penggunaan lain sebagai suatu masalah serius yang mengancam ketahanan pangan . Masalah lainnya adalah berupa sempitnya pemilikan lahan sawah sehingga usaha tani padi di Pulau Jawa semakin tidak menarik sebagai sumber pendapatan rumah tangga petani

 Agar supaya menjadi lebih kompetitif, maka mekanisasi pada usaha tani padi perlu ditingkatkan dan kedepan perlu diupayakan dengan memperluas lahan sawah baru diluar Pulau Jawa, yaitu dengan mengembangkan lahan rawa pasang surut yang potensial untuk itu . 

Indonesia sesungguhnya akan mampu mencukupi kebutuhan pangan (beras) untuk kurun waktu 20 tahun mendatang dari optimalisasi lahan rawa pasang surut yang sudah direklamasi sejauh ini . Tidak perlu dengan membuka lahan baru di daerah rawa . Pilihan ini selayaknya lebih diprioritaskan dibandingkan alternatif lain semisal mengembangkan lahan sawah beririgasi dengan membuat bendungan sebagai sumber pasokan airnya .

Namun demikian untuk mengoptimalkan pengembangan lahan rawa pasang surut diperlukan adanya dukungan kebijakan yang jelas dan terarah untuk mengendalikan dan menekan seminimum mungkin hal-2 yang berdampak negatif terhadap lingkungan pada lahan rawa yang sudah direklamasi dan kebijakan yang kondusif untuk meningkatkan produktivitas usaha tani di lahan rawa pasang surut melalui diversifikasi . Juga diperlukan adanya upaya-2 khusus untuk mengatasi lahan-2 yang bermasalah . Hal itu semuanya tergantung kepada kondisi dan karakteristik fisik daerah . Perlu pula adanya pemikiran-2 dan upaya-2 tentang bagaimana mengatasi permasalahan semacam ini di kawasan-2 lainnya .


FAQ 1:  Mengapa memilih mengoptimalkan lahan rawa pasang surut untuk peningkatan produksi padi dan bukannya mengembangkan lahan sawah beririgasi ?

Lahan sawah dengan irigasi gravitasi terluas berada di Pulau Jawa, di Sulawesi Selatan dan di Sumatera Utara . Akan tetapi potensi untuk memperluas lahan sawah beririgasi nampaknya terbatas .

 Banyak proyek-2 irigasi di Sumatra dan di Kalimantan yang lahannya bermasalah . Juga banyak diantaranya bermasalah dari segi bentang lahannya karena kendala physio-geografisnya dan juga karena kondisi topografi dan hidrologi dari sungai-2 dan adanya keterbatasan sumber air sehingga banyak yang tidak layak untuk irigasi .   


FAQ 2:  Mengapa baru sedikit lahan rawa pasang surut yang dikembangkan sementara potensinya cukup besar untuk peningkatan produksi padi ?

Masalah Teknis . Ada berbagai masalah tanah dan lingkungan yang sulit pada lahan rawa pasang surut . Pada masa sebelumnya masalah ini belum banyak diketahui dan dipahami dengan baik . Perkembangan pengetahuan dan teknologi merupakan hambatan utama berkembangnya reklamasi lahan rawa dalam skala besar

  GOTO TOP

 

Lihat sistem evaluasi kualitas lahan Rawa Pasang Surut

Goto Kualitas Lahan Rawa

Beberapa masalah yang terjadi di lahan rawa pertanian pasang surut :

·     Hasil lebih rendah dari yang diharapkan karena tanah belum matang ;

·     Berkaitan dengan masalah ini , juga disebabkan kendala tenaga kerja dan modal usaha tani ;

·     Ada beberapa jenis permasalahan, terutama :

Þ  Kurangnya dukungan kredit ;

Þ  Prasarana kurang memadai ;

Þ  Tidak adanya tata air mikro dilahan usaha tani

Þ  Pengolahan tanah sama sekali tidak dilakukan atau hanya dilakukan apa adanya

Þ Buruknya kualitas beras karena tidak memadainya dukungan / fasilitas untuk manajemen paska panen ;

Þ  Ancaman serangan tikus dan hama tanaman ;

Þ  Masalah sertifikasi lahan ;

·     Tidak memadainya O&P (operasi dan pemeliharaan) jaringan saluran dan bangunan pengatur air .

Implementasi teknologi hanya akan berhasil bila didukung melalui upaya yang terpadu terutama di tingkat usaha tani , yang merupakan kombinasi dari berbagai upaya dan langkah sehingga pemakaian input pertanian akan mendatangkan hasil yang memadai bagi para petani  

Sesungguhnya pengembangan lahan rawa pasang surut memerlukan dukungan investasi dan teknologi tinggi . Hasil pertanian yang cukup tinggi akan menjamin investmen untuk pengelolaan air memiliki kelayakan ekonomis dan berkelanjutan .


 

FAQ 3:  Mengapa mekanisasi lebih cocok diterapkan pada lahan pertanian di daerah rawa pasang surut dibandingkan pada lahan beririgasi gravitasi ?

 

Pada lahan pertanian di daerah rawa pasang surut, kelebihannya yang paling utama adalah pada ukuran luas petakan lahan sawah yaitu 1 Ha, sementara para petani memiliki lahan usaha rata-2 seluas 2 Ha . Bahkan ada kecenderungan banyak diantara petani yang memiliki lahan sawah lebih luas dari itu . Sementara di lahan beririgasi di Pulau Jawa, para petani memiliki lahan sawah tidak lebih dari 0.5 Ha dan bahkan banyak yang luasnya kurang dari itu . Pada kebanyakan lahan sawah beririgasi yang berada di luar Pulau Jawa kondisinya tidak jauh lebih baik. Dengan kasus-2 yang sedemikian itu, mekanisasi pertanian dipandang lebih cocok diterapkan di lahan sawah di kawasan rawa pasang surut terutama atau terlebih lagi bila dikaitkan dengan situasi dimana gabah di tingkat petani harganya cukup rendah .


Perbandingannya dengan kondisi di Australia .

Sebagaimana terlihat di Web nampaknya di Australia kondisi dan sasaran untuk pengendalian keasaman yang muncul dari tanah sulfat masam berbeda dengan apa yang dihadapi di Indonesia . Suatu model komputer dari Australia yang dibuat untuk mengendalikan keasaman tanah di lahan tanaman tebu, lebih mengkhawatirkan timbulnya keasaman yang berasal dari saluran . Hal ini sungguh berbeda dengan sasaran pengendalian keasaman pada kasus Indonesia dimana keasaman di saluran dan dari lingkungan lahan merupakan masalah yang terkendali dan dapat diatasi secara permanen dengan aliran satu arah yang dikendalikan dengan mengoperasikan bangunan pintu air . Sungguh tidak jelas mengapa ada perbedaan pendekatan semacam itu , khususnya mengingat dalam pendekatan model Australia, adanya gangguan minimum pada lahan pertanian diartikan bahwa masalahnya tidak akan pernah terpecahkan . Ini sepenuhnya berbeda dengan pendekatan model Belanda . Di Belanda sudah tidak ada lagi masalah dengan tanah sulfat masam . Tanah yang dulunya mengandung sulfat masam, sekarang ini merupakan tanah pertanian yang subur dan terbaik di negara itu . Berdasarkan simulasi model komputer untuk kasus Indonesia (Suryadi, 1996) ditunjukan bahwa pada kebanyakan kasus, proses pencucian selama pengolahan tanah untuk tanaman padi dan penggelontoran air di saluran dengan mekanisme pasang surut dinilai memadai untuk mengendalikan keasaman


Suryadi, 1996, Soil and Water Management Strategies for Tidal Lowlands in Indonesia. PhD. TU Delft, IHE. Balkema , Rotterdam