|
Areal Percontohan O&M , Telang I , Sumatra Selatan Lahan Rawa Pasang Surut , Evaluasi terhadap Pedoman Pengembangan |
||
![]() Kimpraswil In cooperation with Rijkswaterstaat
|
Proyek Percontohan Monitoring untuk O&M (Pilot area) Maksud Pengoperasian , pemeliharaan dan penyelenggaraan proyek percontohan untuk O&M dan pengelolaan air pengembangan tahap II . Tujuan 1. Pengkajian Program Operasi dan Pemeliharaan di areal percontohan dan membandingkannya dengan Pedoman O&P yang sudah ada ; 2. Implementasi dan Monitoring rencana pengelolaan air yang cocok untuk areal percontohan ; 3. Menghimpun / membangun satu set data yang “reliable” untuk pengujian model hidrodinamika ; 4. Pengujian kualitas tanah dalam kaitannya dengan tata letak jaringan saluran makro dan mikro ; pengelolaan air di lahan usaha dan pengaturan air di jaringan saluran ; rekomendasi penggunaan / pemanfaatan lahan ; Kegiatan 1. Penyelidikan tanah , topograpi , dan hidrologi . Sistem monitoring kualitas tanah . Pengujian model Duflow ; 2. Pengkajian pengelolaan pertanian di areal percontohan dengan penerapan input pertanian . Introduksi sistem pengelolaan air di lahan usaha tani . Efek penggunaan traktor . Rekomendasi penggunaan traktor dan pompa air . Pola pertanaman ; 3. Pengkajian terhadap rencana pengelolaan air di areal percontohan . Introduksi rencana pengelolaan air kepada kelompok petani pemakai air yang ada di kawasan ini . Perencanaan pengoperasian dan perencanaan pemeliharaan ; 4. Pengkajian O&P di areal percontohan , meliputi pengorganisasian , prosedur perencanaan dan prosedur penganggaran ; 5. Monitoring dari dampak O&P di antara dua blok tersier (masing-2 seluas 8 ha ) yaitu di areal yang terletak diantara saluran tersier TC4 dan TC12 ; 6. Pengumpulan data harian dari indikator-2 kunci untuk model hidrodinamika dan pengoperasian sistem pengelolaan air di lahan usaha dan pengaturan air di jaringan saluran . Areal percontohan terletak di blok sekunder P6-3N Telang I . Areal ini mencakupi 17 unit tersier dimana 11 unit diantaranya termasuk dalam proyek TAM ( Tata Air Mikro) dari Departemen Pertanian . Pada areal ini , akan dilakukan monitoring secara detil di 2 blok tersier , termasuk pengujian model Duflow , dimana pada salah satu bloknya sebelum ini sudah pernah dilakukankegiatan monitoring secara detil melalui proyek IISP (Telang Saleh) dan satu blok selebihnya merupakan areal baru . Kedua blok ini termasuk dalam proyek TAM Departemen Pertanian . Areal ini dipilih dengan mempertimbangkan aspek fungsionalitas dari bangunan pintu tersier yang melayani areal tersebut . Hasil Peninjauan Lapangan . Dari tanggal 23 sampai dengan 24 Oktober 2002, Tim dari Direktorat Bina Teknik Ditjen Sumberdaya Air Depkimpraswil ( Kusumo Respatyo ME dan Ir.Hartoyo S. MEng.) bersama dengan A.v.d. Eelaart ( ARCADIS-Euroconsult ) dan P.Hollanders ( UNESCO-IHE ) telah melakukan peninjauan lapangan . Tim didampingi staf Dinas Pengairan Propinsi yaitu Ir. Suwardiyono dari Proyek Irigasi dan Rawa, dan staf Dinas Pertanian yaitu Ir. Apandi , serta Tim UNSRI yaitu Ir. M. Yasid dan Ir. Syahrial . Selama di lapangan , sebagian anggota Tim berkesempatan menemui dan berdialog dengan Bupati Banyuasin. Diluar itu , Tim juga mengadakan pertemuan dengan Camat dan Kepala Desa Sumber Mulyo Delta Telang I. Sebelumnya, di Palembang Tim melakukan pertemuan dengan instansi-2 : Proyek Irigasi dan Rawa serta Dinas Pertanian Propinsi . Selama di lapangan diselenggarakan pertemuan dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air . Berikut ini adalah hasil diskusi dengan pihak-2 terkait dan berbagai hal penting dari hasil peninjauan lapangan : Dr. Rubiyanto H.Susanto dari Universitas Sriwijaya , Palembang , menginformasikan bahwa Fakultas Pertanian akan mendukung kegiatan Proyek Percontohan dengan dana dari mereka sendiri . Tambahan dana akan dicarikan dari Pusat Penelitian Universitas. Tim dari UNSRI akan turut serta melaksanakan kegiatan yang ada pada proyek Pilot Monitoring O&M . Dr.Rubiyanto memandang penting adanya proyek Pilot Monitoring ini , tidak hanya untuk kepentingan O&M saja , akan tetapi juga demi untuk memperoleh gambaran lengkap menyangkut aspek-2 yang berkaitan dengan kondisi petani, tanaman, tanah, Perkumpulan Petani Pemakai Air, masalah sosial ekonomi, pendapatan, kelembagaan, dlsb . Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi , Departemen Pertanian untuk tahun anggaran 2003 memprogramkan kegiatan monitoring dari efek Pengelolaan Air di Lahan Usaha Tani (TAM) di areal percontohan O&M bekerja sama dengan Dinas Pertanian Propinsi Sumatera Selatan dan Tim UNSRI (Dr.Rubiyanto). Ir.Hilman Manan Dipl.HE dan Ir.Amier Hartono , dari Direktorat Pemanfaatan Air Irigasi Deptan , masing-2 duduk sebagai anggota Pokja Evaluasi Pedoman Pengelolaan Air untuk Pengembangan Lahan Rawa Pasang Surut . Bangunan Pintu Air dan Pengoperasiannya . Pada tingkat sekunder , tidak ada bangunan pintu di SDU, tetapi di SPD terdapat dua buah bangunan pintu . Pada masing-2 bangunan , dilengkapi dengan 2 buah daun pintu klep dan dua buah daun pintu geser serta penyaring sampah yang dipasang diujung hulu dan diujung hilir bangunan . Namun dilapangan hampir semua penyaring sampah banyak yang tidak terpasang dengan benar bahkan banyak yang sudah hilang . Bangunan pintu yang berada dibagian selatan salah satu pintu gesernya pada saat ini sudah tidak bisa dioperasikan, posisinya selalu dalam keadaan terbuka ( pintu klep masih bisa beroperasi dengan baik). Untuk sementara ini , bangunan pintu ini dioperasikan hanya separohnya saja , dimana pintu klep maupun pintu gesernya tetap terbuka . Ini berarti , air pasang hanya bisa mengalir masuk separohnya saja dari kapasitas maksimumnya di saluran SPD , sehingga mengakibatkan muka air saluran tetap tinggi pada saat pasang (sekitar 0.30 m dibawah permukaan tanah ) . Pada saat surut, air mengalir keluar dari saluran , dan debit yang melewati pintu selatan (P6) volumenya dua kali lebih besar karena pintunya tidak bisa ditutup . Di keseluruhan unit tersier yang dikunjungi , semua bangunan pintunya tidak berfungsi karena semua stoplognya hilang . Di beberapa bangunan , mengalami penggerogosan serius sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan dan perembesan air lewat samping-2 bangunan . Dari laporan para petani diketahui bahwa keseluruhan pintu tersier yang berada di 17 unit tersier semuanya sudah rusak . Dalam situasi yang demikian itu, keseluruhan areal dipengaruhi langsung oleh pasang surut harian , termasuk bahkan pada saat musim kemarau , sehingga mengakibatkan drainase lahan menjadi terhambat . Permukaan air harian yang tinggi disaluran mempengaruhi elevasi muka air tanah di lahan ( juga terjadi pada musim kemarau) , akan menghambat berlangsungnya pemantapan struktur tanah yang semestinya terjadi lewat proses pematangan, dan tidak banyak kandungan pirit yang bisa dihilangkan melalui oksidasi dan pencucian . Ini jelas akan lebih memperpanjang masa ketidakmatangan tanah, yang lebih lanjut mengakibatkan potensi produksi pertanian tidak akan tercapai , demikian pula kapasitasnya untuk mempertahankan air permukaan. Karena itu diusulkan agar pintu sekunder dioperasikan sedemikiaan hingga muka air di saluran SPD mencapai elevasi maksimumnya sekitar 0.60 m dibawah muka tanah . Untuk itu , salah satu pintu geser di kedua bangunan lebih dulu di set 0.60 m diatas elevasi puncaknya , sedangkan pintu klep tetap dalam keadaan membuka . Sementara pintu geser lainnya tetap dalam keadaan tertutup ( bangunan pintu yang di selatan tidak mungkin bisa dilakukan seperti ini) . Dengan cara ini , akan diupayakan untuk : · menciptakan agar muka air rata-2 di saluran SPD lebih rendah dari elevasi yang ada saat ini , sehingga melancarkan drainase dari blok tersier selama musim kemarau dan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tanaman , dan air untuk keperluan rumah tangga tetap diusahakan bisa dicukupi pada saat pasang tinggi ; · mengurangi fluktuasi muka air di saluran SPD untuk mencegah resiko terjadinya kelongsoran tebing saluran seperti yang sering terjadi sekarang ini . Namun demikian perlu diberitahukan kepada para petani apabila mereka memerlukan lebih banyak air di saluran SPD , mereka bisa mengoperasikan pintu sekunder sesuai keperluan . Para petani juga menyatakan keinginan mereka untuk mengatur muka air di saluran tersier, yaitu di dua blok tersier yang berada di areal percotohan , setelah diperbaiki - pintu stoplog akan dipasang oleh para petani sendiri . Saat ini sedang dalam pemikiran tentang kelayakan untuk memasang papan pintu klep dari bahan fiberglass (buatan perusahaan Tedmond , Palembang) sebagai alternatif pintu stoplog tersier yang sudah pernah terpasang sebelumnya. Papan pintu klep yang diusulkan ini bisa dipasang bergantian, baik untuk kepentingan drainase maupun supply . Kegiatan-2 yang diagendakan mulai Nopember 2002 - Pengukuran lebar bangunan pintu tersier di TC4 dan TC12 untuk pemasangan daun pintu stoplog atau pintu klep fiberglass ; - Para petani harus memberi laporan tentang bagaimana cara mereka mengoperasikan pintu tersier (level stoplogs - dibaca papan ukur yang terpasang di bangunan) - Melaporkan setiap perubahan apapun menyangkut “setting” pintu tersier maupun sekunder agar model hidrodinamika dimungkinkan untuk dibuat . |