| Dampak Lingkungan | ||||
![]() Kimpraswil in cooperation with Rijkswaterstaat
|
Pengembangan lahan rawa pasang surut berdampak cukup besar terhadap lingkungan . Yang paling menonjol diantaranya adalah lenyapnya vegetasi alam serta flora dan fauna yang unik dan akan menjadi sangat berbahaya apabila mengalami kepunahan yang total pada sebagian besar kawasan di Indonesia . Korupsi dan lemahnya penegakkan hukum merupakan penyebab yang paling utama yang mengakibatkan terjadinya kerusakan dan punahnya hutan lindung . Ini mungkin saja benar , tetapi yang paling menentukan sesungguhnya adalah tekanan pertumbuhan jumlah penduduk yang demikian besar , yang pada akhirnya terbukti sebagai kekuatan yang paling dominan yang mengakibatkan kawasan lahan yang unik ini mengalami kepunahan . Pada hemat kami untuk menekan atau mengurangi dampak negatif pembukaan lahan baru menuntut adanya pengembangan teknologi .Melalui pengembangan teknologi akan diperoleh pilihan terbaik diantara yang mungkin dan yang tidak mungkin untuk dipilih oleh segenap stakeholder . Pengembangan lahan rawa pasang surut merupakan contoh terbaik bagi masalah semacam ini . Namun demikian , bahaya terbesar untuk saat ini adalah menyangkut hutan rawa gambut , berhubung teknologi yang ada bagi pengembangan lahan semacam ini belumlah lengkap dan sempurna , sementara lahan rawa gambut apabila mengalami subsiden , drainabilitasnya akan terganggu dan sulit untuk dipulihkan kembali . Untuk saat sekarang nampaknya bagi kebanyakan lahan rawa bertanah gambut hampir tidak ada peluang bagi pengembangan yang berkelanjutan karena status perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada saat ini masih belum memungkinkan untuk itu . Bagaimanapun, hutan rawa gambut sebagaimana ditemukan saat ini berada dalam skala luasan yang demikian besar , dan sekiranya drainabilitas tidak berperan sebagai faktor yang menentukan,maka sesungguhnya cukup terbuka peluang bagi pengembangannya secara berkelanjutan (bagian selatan sungai Kampar , di Propinsi Riau). Masih banyak diperlukan penelitian-2 untuk mengembangkan teknologi dalam rangka pemanfaatan lahan dengan drainabilitas yang berkelanjutan pada tanah gambut di daerah tropis (seperti halnya lahan penggembalaan ternak di kawasan lahan gambut di negeri Belanda ). Keberhasilan pengembangan akan bisa mendorong lebih banyak lagi hutan rawa gambut primer yang bisa dan perlu dilestarikan . Hal ini berarti bahwa keputusan akan menjadi lebih mudah dan lebih tegas antara kepentingan untuk mencapai keberhasilan atas investasi pengembangan disatu pihak dan upaya yang bertujuan melestarian hutan secara alami dilain pihak (khususnya untuk kawasan perlindungan ), dan pada akhirnya hutan rawa primer akan semakin banyak bisa dilestarikan . Inilah sasaran yang harus diwujudkan dalam rangka melestarikan warisan alam yang bersifat unik di Indonesia . Persoalan Keasaman bisa dipecahkan ! Efek negatif yang muncul sebagai akibat dari pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut adalah tereksposnya kandungan pirit yang berada di lapisan tanah bagian bawah karena turunnya muka air tanah . Ini merupakan proses yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama setelah lahan direklamasi , dan pada gilirannya akan berakibat pada meningkatnya keasaman pada saluran yang letaknya berdekatan . Pencemaran keasaman di kawasan reklamasi. Meningkatnya pirit yang terekspos karena proses oksidasi setelah reklamasi akan membebaskan keasaman dalam jumlah yang besar ke lingkungan terdekat pada awal periode musim hujan , terutama ke saluran terdekat . Pencucian keasaman merupakan suatu proses yang penting untuk menjamin terciptanya lingkungan pertumbuhan tanaman padi yang sehat . Para petani harus didorong agar mampu menciptakan kondisi yang diperlukan bagi kelancaran proses pencucian dilahan usaha melalui teknik pengelolaan air yang tepat. Namun demikian, di pihak lain, terbebasnya keasamanakan memberikan efek negatif terhadap budidaya perikanan air tawar dan kualitas air untuk keperluan rumah tangga . Pengendalian kualitas air di saluran merupakan suatu aspek yang pada saat ini belum mendapatkan perhatian yang memadai dalam pembangunan maupun pengoperasian prasarana pengairan . Untuk maksud itu, perlu adanya penyempurnaan kapasitas saluran dalam hal menggelontorkan keasaman air dengan mengintroduksikan sistem aliran air satu arah di saluran dengan bantuan pintu pengatur . Alternatif lainnya yang juga efektif untuk mengatasi persoalan keasaman adalah dengan mengintroduksikan menghubungkan dua saluran yang “dead end”. Dengan cara ini akan bisa mencegah terjadinya keasaman, akumulasi gulma dan pengendapan di bagian ujung saluran yang “dead end “. Persoalan semacam ini banyak dihadapi pada areal yang lokasinya jauh dari sungai dimana sering mengalami kondisi “slack water”. Untuk mengatasi masalah keasaman di lahan usaha , silahkan mengacu pada referensi yang dimuat pada “web pages O&P TAM dan Sistem Usahatani Terbebasnya keasaman ke lingkungan disekitarnya. Pengelolaan air yang tepat dapat mencegah terbebasnya keasaman dalam jumlah besar yang terjadi secara serentak ke lingkungan disekitarnya yang bisa mematikan ikan-2 dan merusak fauna . Sesungguhnya apabila pengoperasian sistem utama memungkinkan penggelontoran keasaman dan senyawa racun lainnya dapat dilakukan secara periodik harian , maka efeknya akan demikian besar untuk melindungi areal disekitarnya terkontaminasi keasaman . Dari hasil monitoring yang telah dilakukan ber-tahun-2 di Indonesia, menunjukan tidak diketemukannya tingkat pencemaran yang signifikan di areal yang bersebelahan dengan kawasan reklamasi yang letaknya dekat dengan sungai maupun anak-2 sungai yang mengalir disekitarnya . |
Contoh persoalan keasaman dan efek dari genangan air di zona akar tanaman padi
Aliran satu arah di saluran utama akan berpengaruh terhadap air yang tadinya sangat masam berubah menjadi tidak masam (oksidasi besi terjadi pada ruas saluran yang airnya diam, lihat kertas pH-meter)
|