Sistem Usaha Tani dan Pengelolaan Paska Panen

 Rawa Pasang Surut , Evaluasi Pedoman Pengembangan

Kimpraswil

In cooperation with

Rijkswaterstaat

Start
Umum
Potensi Lahan
Lingkungan
Pilot area
TAM
Pertanian
Pilot views
operasi pintu
Rice Estate
Maret 2003
September 2003
DirJen PLA



Tanaman padi diikuti kemudian dengan tanaman jagung di Karang Agung Tengah. Tanaman padi di Propinsi Jambi (menggunakan traktor tangan).


Salah satu kendala utama yang dihadapi pada pengembangan lahan rawa pasang surut adalah terbatasnya tenaga kerja . Para petani kebanyakan memiliki lahan usaha 2 ha atau lebih ; terlampau luas kalau penggarapannya dilakukan secara manual . 

Hambatan ini berdampak luas terhadap realisasi pencapaian potensi produksi padi dan juga terhadap bagaimana padi dibudidayakan di lahan rawa pasang surut .


Pengolahan Tanah 

Bilamana tidak ada peluang untuk mengolah tanah dengan menggunakan traktor maka para petani melakukannya secara manual . Karena terbatasnya tenaga kerja maka akan ditempuh cara pengolahan tanah dengan sistem TOT (Tanpa Olah Tanah *) , ataupun sistem pengolahan tanah secara minimal . 

Walaupun cara semacam ini dianggap wajar, akan tetapi memiliki efek yang negatif karena potensi lahan tidak mungkin didayagunakan secara penuh : 

1.     Tanpa menggunakan traktor maka masa pertanaman akan menjadi lebih panjang , karena pengolahan tanah secara manual memakan waktu yang lebih lama . Secara umum sudah diketahui bahwa masa pertanaman yang waktunya lebih panjang akan semakin meningkatkan ancaman serangan tikus ; 

2.     Tanpa pengolahan tanah kandungan racun akan tetap tertinggal di lapisan tanah bagian atas dan membahayakan tanaman padi ; 

3.     Karena masa pertanaman lebih panjang dan bahaya kandungan racun menjadi semakin meningkat maka yang lebih cocok adalah budidaya tanaman padi lokal . Namun demikian , potensi produksi padi lokal tidak bisa lebih dari 2 ton GKG / ha ;  

4.     Bilamana tanah menjadi semakin matang dan lapisan pirit dangkal telah teroksidasi dan telah tercuci , pengolahan tanah secara mekanis akan membentuk lapisan bajak. Lapisan bajak ini akan meningkatkan kemampuan tanah mempertahankan keberadaan lapisan air diatas lahan sawah. Kondisi ini akan mendorong para petani melakukan pertanaman yang kedua pada akhir musim hujan . 

Bilamana varietas padi jenis yang lebih baru sudah bisa diintroduksikan bersamaan dengan introduksi penggunaan traktor kepada para petani, maka akan cukup banyak petani yang akan lebih memilih cara penebaran benih secara langsung sebagai pengganti cara “transplanting” yang biasanya memakan waktu lebih lama. Puslitbangtan (AARD) juga merekomendasikan alat penebaran benih secara manual sebagai suatu cara yang lebih efektif untuk pembibitan, pengendalian hama tanaman, teknik pemanenan, dlsb . … akan tetapi kebanyakan petani masih tetap  menggunakan penebaran dengan cara mereka sendiri . 

(*) Yang dimaksud dengan TOT adalah suatu cara pengolahan tanah yang lebih dikonsentrasikan kepada pembakaran dan/atau penyiangan tanaman dan gulma atau dengan menggunakan herbisida . Pengolahan tanah ini dilakukan tanpa atau hanya dengan melakukan pengolahan tanah  secara minimal . Penanaman benih dilakukan dengan cara membuat lobang dengan menggunakan tongkat dari kayu yang dihunjamkan ketanah, dan benih padi kemudian ditaruh kedalam lobang .


 Efek Mekanisasi  

Bagi para petani akan terbuka kemungkinannya mengganti tanaman padi lokal ke varietas padi yang hasilnya tinggi (HYV). Tanam padi dua kali dalam setahun juga menjadi sangat dimungkinkan. = 

Penggunan asupan (input) bagi pertanaman padi 2x setahun akan mengakibatkan perubahan besar pada lingkungan fisik lahan rawa pasang surut. 

Untuk mendorong agar para petani bertanam padi 2x setahun, persyaratan berikut perlu dipenuhi : 

Pematangan fisik tanah : 

1.    Tanahnya harus sudah cukup matang . Dengan demikian efek pengolahan  tanah secara mekanis bisa lebih optimal . Tanah bisa menjadi lebih cepat  matang dengan cara mempertahankan muka air tanah 60 cm dibawah permukaan tanah pada saat musim kemarau (pada saat tidak ada pertanaman) . Untuk itu perlu ditunjang dengan pembuatan parit/saluran cacingan sebagai komplemen dari pengaturan air di lahan usaha tani dikombinasikan dengan pengaturan muka air di saluran pada elevasi yang lebih rendah dari yang ada saat ini . 

2.    Penggelontoran dan pencucian sangat diperlukan pada permulaan musim hujan agar supaya terjadi  proses pematangan tanah . Metoda terbaik adalah dengan cara pembajakan tanah secara dalam (20 - 30 cm) pada permulaan musim hujan , biarkan bongkahan tanah mengalami pengeringan karena panas matahari , disusul kemudian dengan pencucian / penggelontoran dengan air hujan dan / atau luapan irigasi / air pasang .  

3.    Bilamana penciptaan lapisan bajak akan dilakukan pada tanah yang sudah matang dengan memakai pembajakan mekanis, maka akan sangat dimungkinkan kelayakan  menggunakan pompa air untuk mengairi tanaman kedua . 

Penggunaan tenaga kerja selama periode paska panen akan semakin berkurang dan semakin efisien 

Hambatan serius yang dihadapi para petani untuk bertanam padi yang kedua adalah lamanya waktu yang diperlukan untuk memanen tanaman yang pertama , dan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses pengeringan gabah selama musim hujan . 

1.     Bila dalam musim hujan pengelolaan kegiatan paska panen tidak dilakukan dengan  baik, maka para petani akan menerima harga yang rendah dari penjualan hasil produksinya . Karena untuk melakukan kegiatan paska panen memerlukan waktu yang lama , maka akibatnya awal musim pertanaman yang kedua akan terlambat . Sementara dalam waktu yang semakin pendek akumulasi curah hujan akan semakin mengecil jumlahnya  sehingga menimbulkan resiko kekeringan bagi tanaman yang kedua . Dampak lebih lanjut dari buruknya pengelolaan kegiatan paska panen tidak hanya harga jual yang rendah dari hasil panenan akan tatapi juga mengakibatkan para petani tidak termotivasi untuk menanam padi yang kedua . 

2.     Untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja pada periode paska panen , maka penggunaan mesin perontok (penyosoh) akan sangat banyak membantu karena bisa mengurangi secara dramatis waktu yang diperlukan untuk menyosoh gabah menjadi padi . 

3.     Pengeringan gabah menggunakan lantai pengeringan dengan “blower” dan “burner” akan sangat banyak membantu meningkatkan kualitas beras dan karena  itu akan meningkatkan harga yang diterima oleh petani . 

Saat ini BULOG ( DOLOG - Sumsel ) tengah menyiapkan - untuk yang pertama kalinya - Penggilingan Beras beserta fasilitas paska panennya di Telang I Propinsi Sumatra Selatan . 

( BULOG = Badan Urusan Logistik , DOLOG = Depot Logistik , suatu badan pemerintah yang berperan untuk stabilisasi harga beras ) . 


Juga berdasarkan Pusat Penelitian Universitas Sriwijya di Palembang dari pengalaman yang diperoleh di lokasi Telang-Saleh (SumSel), dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk mewujudkan keberhasilan pengembangan lahan rawa memerlukan investmen yang relatif tinggi baik untuk sektor SDM maupun prasarana. Pendekatan pengembangan dengan input dan biaya rendah ternyata tidak membawa keberhasilan. Table di bawah ini meringkaskan invesmen yang dibutuhkan untuk pola pengembangan model komprehensif dan terpadu.

Table 1: Aspek-2 yang mendukung keberhasilan strategi pengembangan lahan rawa pasang surut.

 

Aspek

Kegiatan

01

PERTANIAN

 

 

–        Pengembangan pertanian dengan dukungan mekanisasi. (paling penting)

–        Dukungan input pertanian (bibit, pupuk termasuk P, pestisida)

–        Pola pertanaman dilakukan secara serentak dalam satu unit pengelolahaan air tingkat sekunder

–        Diversifikasi tanaman, palawija-tanaman perkebunan, perikanan

–        Intensitas pertanaman 2X tanam setahun

–         Penyuluhan dan pelatihan bagi para petani dan staf/petugas daerah

 

02

 

PENGELOLAAN AIR

–        Pemasangan/Rehabilitasi bangunan pintu air

–        Operasi dan pemeliharaan pintu air

–        Pelatihan O&P bagi para petani dan petugas daerah

–        Pengembangan budidaya perikan

–        Perkebunan/Tanaman keras

03

 

PENANGANAN PASKA PANEN

–        Fasilitas/sarana pengeringan dan penenganan paska panen tersedia mencukupi dan merata jumlahnya di masing-2 kawasan

–        Gudang penyimpanen

–        Angkutan ke pasar

–        Pemasaran

04

 INFRASTRUKTUR EKONOMI, SOSIAL DAN PENGEMBANGAN DAERAH

–        Peningkatan dan penyempurnaan perhubungan air

–        Pengembangan jaringan jalan

–        Pengembangan institusi pasar

–       Sarana air minum, sanitasi, pendidikan, kesehatan, keagaman

–        pengembangan wiliyah dan integrasi antar kawasan/sub-kawasan melului penataan ruang

05

PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN

–        Litbang, penyuluhan oleh lembaga penelitian setempat

–        Inisiatif dan komitmen Pemerintah Daerah

–        Kemitraan/keterlibatan sektor swasta

–        Peningkatan partisipasi

–        Layanan jasa perbankan dan mekanisme kredit

06

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

–        Manajemen aset

–        Monitoring dan Evaluasi

–        Sistem Informasi Geografi

–        Pengembangan model-2 pengelolaan air dan DSS (decision Support System)

07

 

PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN

–       (Amdal/ UKL/UPL)

–        Pengembangan kerangka hukum dan penegakannya

–        Konservasi sumberdaya alam dan pelestarian ekosistem

 


 

Kualitas Lahan yang dapat di Daerah Rawa Pasang Surut lihat http://www.eelaart.com/kualitas.htm