Tata Air Mikro (TAM)

Evaluasi terhadap Pedoman Pengembangan

Kimpraswil

in cooperation with:

Rijkswaterstaat

Start
Umum
Potensi Lahan
Lingkungan
Pilot area
TAM
Pertanian
Pilot views
operasi pintu
Rice Estate
Maret 2003
September 2003
DirJen PLA

 

Contoh layout disuatu areal dengan jarak antara saluran tersier=400m. Contoh di daerah tada hujan. Dua kali padi bisa kalau ada pompa di waktu olah tanah

Contoh di lahan usahatani yang sangat tergantung pada hujan (tadah hujan) Jarak antara saluran tersier=400 m, subtersier berjarak 200m

Sawah tada hujan di Telang II dengan sub-tersier dan jalan usahatani

Implementasi TAM  

Pengelolaan air di tingkat lahan usaha tani (TAM) merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pengembangan lahan rawa pantai / pasang surut . Tujuannya mencakup pelayanan pemenuhan kebutuhan air tanaman maupun drainase , dan kebutuhan pencucian tanah . Termasuk pula diantaranya adalah untuk memacu proses pematangan tanah, pelenyapan keasaman dan kandungan bahan-2 beracun serta untuk pengembangan lahan dalam jangka panjang .Pertumbuhan tanaman yang kurang berhasil sering diakibatkan oleh pengaruh yang ditimbulkan dari air yang tergenang di lahan dalam waktu yang lama dan kurang memadainya sarana untuk proses pencucian maupun tidak adanya penyegaran air secara periodik . Bagi tanah yang kaya akan kandungan bahan organik kondisi yang demikian itu akan mengarah kepada kondisi anaerobik , keracunan tanah dan rendahnya kualitas kandungan bahan organik sehingga kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman yang produktif . Tidak adanya pengelolaan air di lahan usaha tani yang dilakukan secara benar disertai dengan buruknya pengoperasian bangunan-2 pintu air akan semakin memperlama waktu proses pematangan sampai mencapai suatu level pada saat mana tanah sudah dapat dianggap tidak bermasalah lagi . 

Tujuan pengelolaan air harus bisa dijabarkan secara konkrit sebagai pedoman praktis yang mampu diwujudkan di lapangan dalam bentuk sistem pengelolaan air di lahan usaha tani . Penerapannya se-hari-2 sangat tergantung kepada berbagai kondisi : curah hujan setempat , tanah , hidrologi , topograpi dan tahap pertumbuhan tanaman . Hal itu berarti tiap-2 lokasi bersifat spesifik dan memerlukan sistem pengelolaan air yang spesifik pula dan bahkan seringkali pula tergantung kepada tata letak dari lahan usaha dan  tergantung pula kepada jaringan saluran tersier dan sekunder .Pada proyek ISDP (Proyek Pengembangan Rawa Terpadu ; Loan IBRD 3762-IND) ada 12 model areas yang sengaja diciptakan di 3 Propinsi dengan luas keseluruhan 1500 ha untuk mengimplementasikan teknologi baru dalam produksi padi di kawasan lahan rawa pasang surut . Model area ini tercakup dalam Unit Tersier Percontohan dan FSTA ( Farming System Technology Adaptation) . 

Keberlanjutan dicapai melalui Partisipasi Petani  

Prinsip yang harus dipegang adalah bahwa seluruh kegiatan di areal percontohan harus dilaksanakan oleh para petani sendiri , dukungan dari proyek hanya sebatas seperlunya dalam kadar minimal .Penekanannya bukan pada pencapaian sasaran secara cepat dengan input yang tinggi , melainkan diimplementasikan melalui penyempurnaan yang dilakukan secara gradual bersama-sama para petani dengan dukungan pemberdayaan dari Pemerintah. 

Kesimpulan dan pengalaman dari Model Area 

Teknologi untuk meningkatkan produktivitas padi telah terbukti di lahan rawa pasang surut . Pengelolaan air di tingkat lahan usaha tani berperan utama dalam pengembangan tekologi ini . Disadari adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengembangkan standar bagi penerapan TAM di lingkungan maupun pada kondisi sosial ekonomi yang berbeda di berbagai kawasan rawa pasang surut . Keterkaitannya dengan pengoperasian jaringan saluran ternyata dinilai demikian penting .


Kriteria Desain untuk Sistem Pengelolaan Air Ditingkat Lahan Usaha Tani ( parit terbuka )


Umum  

Lahan yang lebih sering terkena irigasi pasang  

Sasarannya adalah pertanaman padi dua kali dalam setahun ; pada musim kemarau ada kemungkinan perlu menggunakan pompa agar bisa mencapai hasil pertanian yang optimal . Kondisi yang ada untuk keperluan supply air tidak perlu diadakan perobahan . Kalau ada penambahan hubungan antara saluran tersier dan sub-tersier dengan saluran sekunder , maka perlu diperhatikan agar semua drainasepara benar-2 dapat dikendalikan oleh para petani . 

1. Saluran sub tersier yang baru dibuat harus dihubungkan dengan saluran sekunder dengan memasang gorong-2 dangkal . Aliran drainase harus bisa dikendalikan . 

2. Bilamana tidak ada bangunan pintu di saluran sekunder : Maka jika diperlukan adanya penambahan hubungan antara saluran tersier dengan saluran sekunder maka perlu dilengkapi dengan bangunan pintu geser yang sebaiknya dipasang berdekatan dengan lokasi pemukiman agar mempermudah keperluan supply air . Jika hubungan itu letaknya jauh dari tempat pemukiman , maka hanya diperlukan gorong-2 yang dilengkapi dengan pintu stoplog , atau pintu klep untuk mengendalikan air drainase yang datang dari lahan usaha (Ingat bahaya overdrain) ; 

3. Bilamana ada bangunan pintu di saluran sekunder : Penambahan hubungan baru antara saluran tersier dengan saluran sekunder hanya perlu dilengkapi dengan pintu stoplog untuk mengendalikan drainase dari lahan sawah . Bangunan pintu yang sudah ada perlu rehabilitasi . 

Pada dasarnya , saluran kwarter dibuat di bagian perbatasan lahan dengan jarak 75 - 100 m antara masing-2 saluran . 

Lahan yang tidak terkena luapan pasang ( tadah hujan )   

Sasarannya adalah satu tanam padi setahun di musim hujan dan tanaman palawija di musim kemarau . Untuk maksud itu drainase lahanperlu penyempunaan untuk tanaman palawija di musim kemarau. Di musim hujan perlu adanya keseimbangan antara keperluan pencucian kandungan racun dari dalam lapisan tanah dengan keperluan mempertahankan permukaan air diatas lahan untuk budidaya tanaman padi . 

1. Apabila diperlukan penambahan saluran subtersier baru, maka harus dihubungkan dengan saluran sekunder dengan memasang gorong-2 dengan aliran satu arah (klep drainase) . Aliran drainase harus dikendalikan dengan pintu stoplog . Dasar (ambang bawah ) pintu harus 1 meter dibawah permukaan ;  

2. Apabila tidak ada bangunan pintu di saluran sekunder : Jika saluran tersier akan dihubungkan dengan saluran sekunder , maka ditempat itu perlu dilengkapi dengan bangunan pintu geser di dekat permukiman untuk memudahkan keperluan pemasokan (supply) air . Jika sambungan saluran tersier ke saluran sekunder letaknya jauh dari lokasi permukiman , maka di tempat sambungan itu perlu dibangun gorong-2 dengan aliran satu arah (klep drainase) . Aliran air drainase perlu dikendalikan dengan pintu stoplog ; 

3. Apabila ada bangunan pintu di saluran sekunder : Jika akan dibuat sambungan baru antara saluran tersier dengan saluran sekunder maka hanya perlu dibuat gorong-2 dilengkapi dengan pintu stoplog untuk mengendalikan air drainase dari lahan usaha . Bangunan pintu yang sudah ada perlu diperbaiki . 

Saluran kwarter perlu dibuat dengan jarak antar saluran sekitar 37 - 50 m , baik yang letaknya dibatas (ujung) lahan maupun yang berada di tengah-2 lahan .