|
|
|
|
|
|
|
|
|
Contoh layout disuatu areal dengan jarak antara saluran tersier=400m. Contoh di daerah tada hujan. Dua kali padi bisa kalau ada pompa di waktu olah tanah |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Contoh di lahan usahatani yang sangat tergantung pada hujan (tadah hujan) Jarak antara saluran tersier=400 m, subtersier berjarak 200m |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sawah tada hujan di Telang II dengan sub-tersier dan jalan usahatani |
|
|
|
|
|
|
|
Implementasi
TAM
Pengelolaan air di tingkat
lahan usaha tani (TAM) merupakan faktor kunci dalam menentukan
keberhasilan pengembangan lahan rawa pantai / pasang surut . Tujuannya
mencakup pelayanan pemenuhan kebutuhan air tanaman maupun drainase , dan
kebutuhan pencucian tanah . Termasuk pula diantaranya adalah untuk memacu
proses pematangan tanah, pelenyapan keasaman dan kandungan bahan-2 beracun
serta untuk pengembangan lahan dalam jangka panjang .Pertumbuhan tanaman
yang kurang berhasil sering diakibatkan oleh pengaruh yang ditimbulkan
dari air yang tergenang di lahan dalam waktu yang lama dan kurang
memadainya sarana untuk proses pencucian maupun tidak adanya penyegaran
air secara periodik . Bagi tanah yang kaya akan kandungan bahan organik
kondisi yang demikian itu akan mengarah kepada kondisi anaerobik ,
keracunan tanah dan rendahnya kualitas kandungan bahan organik sehingga
kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman yang produktif . Tidak adanya
pengelolaan air di lahan usaha tani yang dilakukan secara benar disertai
dengan buruknya pengoperasian bangunan-2 pintu air akan semakin memperlama
waktu proses pematangan sampai mencapai suatu level pada saat mana tanah
sudah dapat dianggap tidak bermasalah lagi .
Tujuan pengelolaan air harus
bisa dijabarkan secara konkrit sebagai pedoman praktis yang mampu
diwujudkan di lapangan dalam bentuk sistem pengelolaan air di lahan usaha
tani . Penerapannya se-hari-2 sangat tergantung kepada berbagai kondisi :
curah hujan setempat , tanah , hidrologi , topograpi dan tahap pertumbuhan
tanaman . Hal itu berarti tiap-2 lokasi bersifat spesifik dan memerlukan
sistem pengelolaan air yang spesifik pula dan bahkan seringkali pula
tergantung kepada tata letak dari lahan usaha dan tergantung pula kepada
jaringan saluran tersier dan sekunder .Pada proyek ISDP (Proyek
Pengembangan Rawa Terpadu ; Loan IBRD 3762-IND) ada 12 model areas yang
sengaja diciptakan di 3 Propinsi dengan luas keseluruhan 1500 ha untuk
mengimplementasikan teknologi baru dalam produksi padi di kawasan lahan
rawa pasang surut . Model area ini tercakup dalam Unit Tersier Percontohan
dan FSTA ( Farming System Technology Adaptation) .
Keberlanjutan dicapai melalui Partisipasi Petani
Prinsip yang harus dipegang
adalah bahwa seluruh kegiatan di areal percontohan harus dilaksanakan oleh
para petani sendiri , dukungan dari proyek hanya sebatas seperlunya dalam
kadar minimal .Penekanannya bukan pada pencapaian sasaran secara cepat
dengan input yang tinggi , melainkan diimplementasikan melalui
penyempurnaan yang dilakukan secara gradual bersama-sama para petani
dengan dukungan pemberdayaan dari Pemerintah.
Kesimpulan dan pengalaman dari Model Area
Teknologi untuk meningkatkan
produktivitas padi telah terbukti di lahan rawa pasang surut . Pengelolaan
air di tingkat lahan usaha tani berperan utama dalam pengembangan tekologi
ini . Disadari adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengembangkan standar
bagi penerapan TAM di lingkungan maupun pada kondisi sosial ekonomi yang
berbeda di berbagai kawasan rawa pasang surut . Keterkaitannya dengan
pengoperasian jaringan saluran ternyata dinilai demikian penting .

Kriteria Desain untuk Sistem Pengelolaan Air Ditingkat Lahan Usaha Tani (
parit terbuka )
Umum
Lahan
yang lebih sering terkena irigasi pasang
Sasarannya adalah pertanaman padi dua kali dalam
setahun ; pada musim kemarau ada kemungkinan perlu menggunakan pompa agar
bisa mencapai hasil pertanian yang optimal . Kondisi yang ada untuk
keperluan supply air tidak perlu diadakan perobahan . Kalau ada penambahan
hubungan antara saluran tersier dan sub-tersier dengan saluran sekunder ,
maka perlu diperhatikan agar semua drainasepara benar-2 dapat dikendalikan
oleh para petani .
1. Saluran sub tersier yang baru
dibuat harus dihubungkan dengan saluran sekunder dengan memasang gorong-2
dangkal . Aliran drainase harus bisa dikendalikan .
2. Bilamana tidak ada bangunan
pintu di saluran sekunder : Maka jika diperlukan adanya penambahan
hubungan antara saluran tersier dengan saluran sekunder maka perlu
dilengkapi dengan bangunan pintu geser yang sebaiknya dipasang berdekatan
dengan lokasi pemukiman agar mempermudah keperluan supply air . Jika
hubungan itu letaknya jauh dari tempat pemukiman , maka hanya diperlukan
gorong-2 yang dilengkapi dengan pintu stoplog , atau pintu klep untuk
mengendalikan air drainase yang datang dari lahan usaha (Ingat bahaya
overdrain) ;
3. Bilamana ada bangunan pintu di
saluran sekunder : Penambahan hubungan baru antara saluran tersier dengan
saluran sekunder hanya perlu dilengkapi dengan pintu stoplog untuk
mengendalikan drainase dari lahan sawah . Bangunan pintu yang sudah ada
perlu rehabilitasi .
Pada
dasarnya , saluran kwarter dibuat di bagian perbatasan lahan dengan jarak
75 - 100 m antara masing-2 saluran .
Lahan
yang tidak terkena luapan pasang ( tadah hujan )
Sasarannya adalah satu tanam padi setahun di musim
hujan dan tanaman palawija di musim kemarau . Untuk maksud itu drainase
lahanperlu penyempunaan untuk tanaman palawija di musim kemarau. Di musim
hujan perlu adanya keseimbangan antara keperluan pencucian kandungan racun
dari dalam lapisan tanah dengan keperluan mempertahankan permukaan air
diatas lahan untuk budidaya tanaman padi .
1. Apabila diperlukan penambahan
saluran subtersier baru, maka harus dihubungkan dengan saluran sekunder
dengan memasang gorong-2 dengan aliran satu arah (klep drainase) . Aliran
drainase harus dikendalikan dengan pintu stoplog . Dasar (ambang bawah )
pintu harus 1 meter dibawah permukaan ;
2. Apabila tidak ada bangunan
pintu di saluran sekunder : Jika saluran tersier akan dihubungkan dengan
saluran sekunder , maka ditempat itu perlu dilengkapi dengan bangunan
pintu geser di dekat permukiman untuk memudahkan keperluan pemasokan
(supply) air . Jika sambungan saluran tersier ke saluran sekunder letaknya
jauh dari lokasi permukiman , maka di tempat sambungan itu perlu dibangun
gorong-2 dengan aliran satu arah (klep drainase) . Aliran air drainase
perlu dikendalikan dengan pintu stoplog ;
3. Apabila ada bangunan pintu di
saluran sekunder : Jika akan dibuat sambungan baru antara saluran tersier
dengan saluran sekunder maka hanya perlu dibuat gorong-2 dilengkapi dengan
pintu stoplog untuk mengendalikan air drainase dari lahan usaha . Bangunan
pintu yang sudah ada perlu diperbaiki .
Saluran
kwarter perlu dibuat dengan jarak antar saluran sekitar 37 - 50 m , baik
yang letaknya dibatas (ujung) lahan maupun yang berada di tengah-2 lahan .
|